Sore itu langit sedang manis manisnya. Matahari oranye mendekat seolah menyapa hangat penghuni semesta. Rerumputan terus menari di hadapan kami, mereka turut merasakan bahagia. Aku dan dirinya duduk berhadapan menikmati segala yang ada. Jogja memang sempurna dan terkenal soal keromantisannya menyambut setiap insan yang menapakkan langkah pada dirinya. Bagaimana tidak? Banyak sekali objek cantik yang dapat dikunjungi dan dinikmati di sini. Seperti halnya kami, yang sengaja pergi untuk merasakan atmosfir romantis kota ini.

Dibiarkannya cahaya surya itu setengah menyorot ke arah wajahnya. Rambutnya yang sedikit berantakan menjadikan dirinya terlihat semakin memikat. Tangannya bersedekap. Matanya lembut menatap sembari berkata “sore ini akan menjadi salah satu sore yang paling berbekas untukku” ujarnya padaku. Lalu aku kembali bertanya “Memangnya kenapa?” sambil tersenyum tipis dan terus menikmati binar matanya. “Karena, situasinya sedang manis sekali. Kamu sedang cantik cantiknya, Jogja sedang Jogja jogjanya. Hahaha” katanya seraya menyingkap rambutku yang sedikit tertiup angin.
Ia memang paling bisa membuat aku senyum senyum sendiri. Kami terus menikmati sore itu. Ditemani dengan beberapa hidangan ringan dan minuman segar asli dari kelapa. Alunan musik yang dimainkan menjadi pelengkap. Café yang sedang kami kunjungi ini, memiliki konsep yang beda dari biasanya. Seperti yang sudah dipaparkan di paragraf awal, banyak sekali objek objek yang kami nikmati. Tempatnya terletak di tengah padang rumput yang cukup luas. Setiap pengunjung didudukkan pada kursi dan meja kayu yang harum, serta dihadapkan ke pemandangan sekitar yang masih hijau dan damai.

  • hanin 1

Tak terasa, sudah cukup lama aku dan dirinya bercengkrama. Waktu setempat telah menunjukkan pukul setengah lima sore. Ditemani desiran angin, dirinya kembali menatap ku perlahan dan berkata “Han.. sorenya hampir habis, gelapnya mulai jatuh perlahan.” Aku tersenyum mendengarnya. Ia mengucapkannya dengan intonasi sedih dengan sedikit manja. “Iya, waktunya kita pulang sebelum gelapnya benar benar datang”, ucapku sambil tersenyum. “Biar ku antar, ya?” “Memangnya kenapa? Aku bisa pulang sendiri”, kemudian ia menjawab lagi “Tidak apa apa, aku hanya ingin memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat. Lagi pula, aku masih ingin bersama. Namun apa daya, sudah hampir gelap dan kau harus pulang. Jika ku antar, kita masih bisa bersenda gurau sambil menikmati jalanan” ucapnya sambil menggenggam tanganku. “Hmmm, baik lah jika itu mau mu.”

Akhirnya kami berangkat untuk pulang. Benar saja, di jalan kami masih terus bercakap dan bergurau. Langit Jogja yang sudah mulai menggelap serta jalanannya yang ramai diiringi terang lampu kota, terus menemani kami hingga sampai pada tujuan. Begitu sampai, aku turun dari vespanya, dan berpamitan “Terimakasih ya sudah mengajakku pergi sore ini. Terimakasih juga, telah mengantarku pulang.” Lalu ia menjawab sambil tersenyum lepas “Dengan senang hati, Tuan Putri ku! Masuk dan beristirahat lah.” Aku pun tersenyum sembari melangkahkan kaki ku untuk masuk ke dalam rumah. Ia kembali memakai helmnya dan bergegas untuk pulang, lalu aku melambaikan tangan kepadanya. Hari itu bukan hanya Jogja dan dirinya yang romantis, tapi juga semesta. Sudah berbaik hati mengizinkan aku tersenyum berkali kali.

0 106